SOLOK– SMKN 1 Gunungtalang baru saja menyelenggarakan kegiatan sosialisasi program bantuan Teaching Factory (TEFA) Tahun 2026, bersamaan dengan sosialisasi Program Sekolah Model Pembelajaran Mendalam serta program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kualitas pembelajaran agar semakin relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Acara menghadirkan narasumber Hevri Yuliadi, S.Pd, M.T dari Balai Besar Pendidikan Kejuruan (BBL) Medan sebagai pemateri konsep Pembelajaran Mendalam, serta Putra Bin Aldabiyah dari RLA Creative Agency, Padang. Secara resmi dibuka oleh Kepala Cabang Dinas Wilayah III Solok Raya Syafruddin, S.Pd, M.M, kegiatan ini juga dihadiri dan didampingi Pengawas Pembina Yetti Maiharni, S.Pd, M.Pd.T serta Kepala Sekolah SMKN 1 Gunungtalang Sri Lestari, S.Pt, M.M.
Apa Itu Pembelajaran Mendalam untuk TEFA?
Banyak yang mengira Pembelajaran Mendalam berarti materi pelajaran menjadi lebih sulit atau rumit. Padahal, konsep ini justru mengajak siswa untuk memahami ilmu secara utuh, bukan sekadar menghafal rumus atau langkah kerja semata.
Melalui pendekatan ini, siswa akan dilatih untuk:
✅ Memahami konsep secara menyeluruh, bukan hanya menghafal tanpa mengerti maknanya
✅ Menghubungkan materi pelajaran dengan kenyataan yang ada di dunia usaha dan industri
✅ Berlatih memecahkan masalah yang benar-benar ditemui di lapangan kerja
✅ Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, dan bekerja sama
✅ Menerapkan nilai kewirausahaan seperti kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, dan semangat berinovasi
Mengapa TEFA Sangat Membutuhkan Pembelajaran Mendalam?
Program Teaching Factory menggabungkan keterampilan teknis dengan jiwa wirausaha. Jika pembelajaran hanya berhenti pada teori tanpa penerapan nyata, siswa akan kesulitan beradaptasi saat terjun bekerja atau mendirikan usaha sendiri.
Dengan Pembelajaran Mendalam, siswa tidak hanya pandai membuat produk – mereka juga paham alasan di balik pembuatan produk tersebut, cara memasarkannya, hingga bagaimana mengembangkannya menjadi usaha yang berjalan terus-menerus.
Bagaimana Penerapannya dalam Kegiatan Belajar Mengajar?
Konsep ini akan dijalankan bersama oleh guru dan siswa melalui langkah-langkah praktis, antara lain:
1. Pembelajaran Berbasis Proyek: Siswa diajak merancang dan membuat produk atau jasa nyata, mulai dari tahap perencanaan hingga proses pemasaran
2. Studi Kasus Nyata: Mengambil contoh tantangan yang sering dihadapi pelaku usaha atau industri, lalu mencari solusinya secara bersama-sama
3. Refleksi dan Evaluasi: Setiap kegiatan ditutup dengan penilaian diri, perbaikan kekurangan, dan penyempurnaan ide yang sudah ada
4. Keterlibatan Dunia Usaha: Mengundang praktisi atau pelaku usaha untuk terlibat langsung sebagai mitra sekolah
Melalui rangkaian program ini, SMKN 1 Gunungtalang berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga terampil, berkarakter kuat, dan siap bersaing di dunia kerja maupun membuka peluang usaha sendiri.
TIM/RC

Posting Komentar